<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>etjoe design blog &#187; Training</title>
	<atom:link href="http://www.etjoe.com/category/training/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.etjoe.com</link>
	<description>design, art, art and design, graphics, best design, best blog, best website, premium design, cool design, cool website, cool blog, famous blog,  design, art, art and creative, website, etjoe.design, packaging, design, art, printing, motion graphics, freelancer, part timer, etjoe, etjoe communications, multimedia, company profile, cd interactive, annual report, art and design, website, website development, bumper, video effect, video profile, 3D/2D, desktop publishing, presentation, power point, flash, logo, brochure, pamphlet, pamflet, webpage, flyer, personal profile, personal profile, etjoe, etjoe design</description>
	<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 05:54:42 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Agar Desain Tidak Itu-itu Saja</title>
		<link>http://www.etjoe.com/2009/03/02/agar-desain-tidak-itu-itu-saja/</link>
		<comments>http://www.etjoe.com/2009/03/02/agar-desain-tidak-itu-itu-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 03:50:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etjoe</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<category><![CDATA[Agar Desain Tidak Itu-itu Saja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.etjoe.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[Meski dibutuhkan kebersamaan untuk saling berbenah antara desainer Web dengan penyedia teknologi atau software menjadi titik tolak kebangkitan desain Web, namun dalam perjalanannya sangat dibutuhkan pengetahuan teknis, kemampuan desain grafis, selain pemahaman arah dari desain web itu sendiri.

Mencermati perkembangan dunia web, khususnya di Indonesia yang cenderung stagnasi, ada beberapa faktor yang wajib dipahami diantaranya :
1. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski dibutuhkan kebersamaan untuk saling berbenah antara desainer Web dengan penyedia teknologi atau software menjadi titik tolak kebangkitan desain Web, namun dalam perjalanannya sangat dibutuhkan pengetahuan teknis, kemampuan desain grafis, selain pemahaman arah dari desain web itu sendiri.<br />
<span id="more-746"></span><br />
Mencermati perkembangan dunia web, khususnya di Indonesia yang cenderung stagnasi, ada beberapa faktor yang wajib dipahami diantaranya :</p>
<p>1. Ide orsinil.<br />
Ini antara lain bisa dilihat dari segi klien, sebagai pemegang penuh atas situs yang akan dibikin oleh desainer Web tersebut. Ketika sebuah ide beradu dengan kepentingan, maka yang terjadi adalah bentuk kompromi-kompromi yang sebenarnya kalau tidak diberikan rambu-rambu akan menambah carut-marut desain Web Indonesia. Desainer Web tidak akan memunculkan ide-ide orisinilnya apabila campur tangan klien yang cukup dalam dan banyak dalam proses pengerjaannya. Walaupun klien punya hak penuh, namun memberikan kebebasan pada desainer Web berkreasi dengan imajinasinya akan sedikit banyak membantu khazanah yang akan menjadikan Web Indonesia menjadi terbaik.</p>
<p>2. Piranti.<br />
Faktor lainnya terletak pada masalah piranti, yang dipisahkan antara piranti yang dipergunakan oleh desainer Web dan piranti yang dipergunakan oleh browser. Semakin banyak peranti yang dipahami dan digunalakan, maka bukan saja mempercantik tapi juga enak dijelajahi. Sedangkan yang berkaitan dengan browser harus menjadi perhatian pada desainer Web. Adanya perbedaan antara komputer PC dan Mac buatan Apple Computers mengakibatkan adanya perbedaan penampilan homepage baik dari segi warna, komposisi, hingga fungsi navigasi dan informasi homepage tersebut. Tak ayal, ketidaktepatan di dalam memilih browser, akan mengurangi fungsi situs tersebut. Misalnya, default font pada komputer PC berbeda dengan Apple Mac, termasuk dalam ukurannya. Dari sisi warna, komputer PC tampak super saturated sedangkan untuk Mac, warna tampil lebih washed out (http://www.glassdog.com/). Dan tidak ketinggalan juga pemahaman karakteristik browser, ada beberapa browser yang tidak mendukung penuh fungsi yang ada pada situs. Microsoft mempunyai JScript dan VBScript dan ActiveX yang tidak bisa dijalankan di Netscape. Atau contoh paling sial adalah situs yang mengharuskan adanya beberapa plug-in, seperti Flash Player atau Shockwave Player. Meski begitu, beberapa desainer Web yang tanggap telah mengatasinya dengan menambahkan baris pilihan untuk browser pengunjungnya.</p>
<p>3. Pengguna.<br />
Faktor lainnya yang tidak kalah penting adalah pengguna. Faktor ini patut diperhatikan oleh desainer Web. Kita bedakan antara pengguna aktif dengan pengguna pasif. Seorang pengguna yang pasif akan menerima apa adanya kendala yang ada ketika sebuah situs ditayangkan sepanjang informasi yang diinginkan telah didapatkan. Akan lebih repot lagi apabila menghadapi pengguna aktif di mana mereka membutuhkan sesuatu yang bisa &#8220;dijual&#8221; dari kunjungannya, selain informasi yang biasa dibacanya. Desain dengan hanya mendasarkan warna-warna seragam akan dengan segera ditinggalkan oleh pengguna jenis ini. Mereka membutuhkan dukungan informasi dengan sistem navigasi serta &#8220;brain effect&#8221; yang cukup membangkitkan selera mereka tinggal berlama-lamaan menelusuri halaman demi halaman. Mampukah desainer Web memahami dinamika ini. Mestinya, desainer Web juga memahami karakteristik para penggunanya. Misalnya, pengguna wanita lebih sensitif terhadap warna dibanding dengan pria. Warna merah lebih popular untuk wanita dan warna biru ternyata lebih disukai oleh pengguna pria. Atau hal-hal yang lebih sepele, misalnya, segmentasi pemakai Internet di Indonesia(http://www.detikinet.com/database/survey-apjii/Prelaunch-internet%20survey/sld010.htm).</p>
<p>4. Tren.<br />
Faktor penting lainnya adalah tren. Desainer Web sepatutnya mengikuti tren yang berlaku di masyarakat sekarang. Namun, dalam memperhatikan faktor ini tidak mendasarkan diri atas menggali lubang kubur bersama-sama. Inilah sebuah dunia yang tidak bisa memisahkan diri dengan lifestyle yang berkembang. Semua faktor ini seharusnya dapat diatasi dengan kerja sama yang lebih kuat di antara pengguna, penyedia jasa teknologi informasi dan para desainer Web itu sendiri.</p>
<p>5. Update.<br />
Faktor update juga ikut menentukan. Update inilah salah satu senjata desainer Web untuk senantiasa mengasah kemampuannya untuk lebih mempermanis situs yang telah dibuat sebelumnya. Sebenarnya ini adalah pedang bermata dua, di mana ketidaktepatan seorang desainer Web untuk melihat ini sebagai potensi mengasah kemampuan, maka akan selamanya update dianggap sebagai pembenaran.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.etjoe.com/2009/03/02/agar-desain-tidak-itu-itu-saja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kekanak-kanakan dan Kreatifitas</title>
		<link>http://www.etjoe.com/2009/02/21/kekanak-kanakan-dan-kreatifitas/</link>
		<comments>http://www.etjoe.com/2009/02/21/kekanak-kanakan-dan-kreatifitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 03:42:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etjoe</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<category><![CDATA[Kekanak-kanakan dan Kreatifitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.etjoe.com/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[Untuk sekedar sama-sama membuka wawasan kita semua ya&#8230;
saya tertertarik sekali dengan omong2 mengenai wacana &#8216;kreatifitas&#8217;:
Saya setuju dengan pernyataan tentang &#8216;kekanak-kanakan&#8217; sebagai salah satu hulu dari kreatifitas, sebab disini tidak mengatakan sebagai satu-satunya, atau kretifitas harus selalu identik dengan kekanak-kanakan. Tapi itu baru suatu pandangan dari satu sisi, analisa psikologi populer.
Sebab sebagai tinjauan kritis (supaya kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk sekedar sama-sama membuka wawasan kita semua ya&#8230;<br />
saya tertertarik sekali dengan omong2 mengenai wacana &#8216;kreatifitas&#8217;:<br />
Saya setuju dengan pernyataan tentang &#8216;kekanak-kanakan&#8217; sebagai salah satu hulu dari kreatifitas, sebab disini tidak mengatakan sebagai satu-satunya, atau kretifitas harus selalu identik dengan kekanak-kanakan. Tapi itu baru suatu pandangan dari satu sisi, analisa psikologi populer.</p>
<p><span id="more-738"></span>Sebab sebagai tinjauan kritis (supaya kita melihat suatu pokok masalah dengan lebih luas), saya akan coba melihat lebih jauh tentang kreatifitas dari sisi pandang lain yang agak berbeda, yaitu pandangan eksistensialis (suatu pandangan filsafat yang berkembang di Eropa awal abad19 yang menekankan eksistensi manusia sebagai perwujudan ke-aku-annya, ke-ada-annya, dan manusia bertanggung jawab atas eksistensi pribadinya &#8230;cogito cogitatum)</p>
<p>Karena kita akan ngomong tentang sesuatu, maka kita akan bikin definisi lebih dulu. Karena kita membicarakan &#8216;kreatifitas&#8217;, definisi dalam arti luas kreatifitas adalah sebagai daya cipta manusia. saya ngga akan bicara rumit-rumit dan berfilsafat-ria disini, tapi poin-poin inti dari pandangan kaum eksistensialis tentang kreatifitas.</p>
<p>Heidegger, menjelaskan kreatifitas berawal dari usaha manusia untuk mencari-cari penjelasan yang memuaskan akan eksistensi dirinya, segala pertanyaan yang mendasar tentang essensi kehidupan, kebenaran, kenyataan, realitas diri muncul kepermukaan dengan kreatifitas sebagai manifestasinya.</p>
<p>Jika ada pandangan kreatifitas manusia muncul dalam keadaan manusia off pressure (digambarkan dengan keceriaan anak-anak tanpa tekanan dan kebebasan dalam berekspresi), tapi dalam secara lebih luas pandangan eksistensialis malah justru menegaskan kreatifitas muncul dalam keadaan manusia sedang &#8216;under pressure&#8217; sebagai manifestasi kontra dehumanisasi, yaitu suatu usaha untuk mengatasi permasalahan2 hidup manusia dan usaha manusia untuk mencari2 jawaban siapa dirinya (who am I?..) dengan kata lain menuju ke arah humanisasi : membuat manusia semakin menemukan ke-manusia-anya.</p>
<p>Sejalan dengan pendapat ini adalah Friederich Wilhelm Nietzche (1844), filsuf eksisitensialis, salah seorang &#8216;nabi&#8217; postmodernisme, juga terdapat Jean Paul Sartre (filsuf eksistensialis Prancis) dan Soren Abye Kiekegaard (filsuf eksistensialis Denmark).</p>
<p>Ada lagi pendapat dari Albert Camus (filsuf Prancis kelahiran Aljazair, penerima Nobel sastra 1957), menjelaskan arti kreatifitas tidak muncul sebagai usaha mengatasi kesulitan semata, melainkan juga sebagai usaha memperjuangkan &#8216;hidup&#8217; itu sendiri, dan kreatifitas akan mencapai bentuknya yang terakhir dengan hukum bagi dirinya sendiri.</p>
<p>Saya bisa menangkap &#8216;kebenaran&#8217; yang sejalan dengan pemikiran para filsuf diatas, manusialah sebenarnya proses kreatifitas itu sendiri. Manusia dengan akal budinya sehingga memiliki daya cipta (kreatifitas) yang membedakan dengan mahluk lain.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-740 aligncenter" title="Kekanak-kanakan yang fun" src="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/02/kanak.jpg" alt="Kekanak-kanakan yang fun" width="200" height="200" /></p>
<p>Kreatifitas adalah suatu proses penemuan jatidiri, penegasan eksistensi manusia selama manusia itu hidup. Jadi tanpa harus bermain2 seperti anak-anak (maksudku kalo disini kita membaca apa yang dimaksud Hepi secara kontekstual) sifat &#8216;kekanak-kanakan&#8217; hanyalah salah satu trigger (pemicu) dari sekian banyak motivasi atau kondisi pemicu manusia untuk kreatif&#8230; jadi kekanak-kanakan disini jangan dipandang secara harafiah&#8230; tapi keceriannya, keluguannya, kebebasannya dalam berekspresi, kebebasan bereksperimen (bebas untuk trial and error) dan sifat ingin tahunya yang besar yang merupakan ciri anak-anak&#8230;..</p>
<p>Tapi akan salah juga kalau kita mengatakan tanpa seperti itu kita nggak akan kreatif&#8230; ini yang dikatakan paradoks dalam wacana kreatifitas, sebab banyak kreatifitas justru muncul dari keadaan yang sebaliknya dari kondisi yang digambarkan di atas.)</p>
<p>Kita sedang berbicara ttg &#8216;kreatifitas&#8217; yang pengertiannya sangat luas, filosofinya sangat dalam dan mengandung banyak sekali paradoks. Manifestasi dari apa yang kita sebut2 &#8216;kreatifitas&#8217; bisa bisa berperan sebagai humanisasi (<a href="http://www.etjoe.com/tag/art/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with Art">art</a>, <a href="http://www.etjoe.com/tag/design/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with design">design</a> dsb) atau malah dehumanisasi (industrialisasi, komputerisasi dsb) (saya tertarik bicara ini, sebab isu dehumanisasi itu pertama kali muncul setelah revolusi industri di eropa, dikarenakan hasil2 industri tsb dirasa kurang humanis dan proses industrialisasi itu dirasa tidak memanusiakan manusia.</p>
<p>Pertamakali muncul kontra dehumanisasi di Swedia 1845. kemudian dilanjutkan dengan gerakan werkbund 1907 di Jerman dan puncaknya gerakan Bauhaus pada 1919 di Jerman yang berusaha mengawinkan antara teknologi industri dan seni sehingga ujung2 nya terciptalah profesi industrial <a href="http://www.etjoe.com/tag/design/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with design">design</a>.</p>
<p>Dan semua yang terjadi adalah masih dalam konteks proses &#8216;kreatif&#8217; manusia) oh ya..kebanggaan manusia yang &#8216;berlebihan&#8217; atas kreatifitas manusia itu pernah terjadi pada masa renaissance di abad pertengahan eropa, dimana sering ditekankan oleh pemimpin2 agama masa itu, bahwa hasil dari kreatifitas manusia berupa sains dan <a href="http://www.etjoe.com/tag/art/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with Art">art</a> adalah merupakan &#8220;cucu Tuhan&#8221; &#8230;maksudnya : kalau Tuhan menciptakan manusia, lalu manusia menciptakan sains dan <a href="http://www.etjoe.com/tag/art/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with Art">art</a>, maka sains dan <a href="http://www.etjoe.com/tag/art/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with Art">art</a> adalah turunan kedua dari ciptaan Tuhan&#8230;tapi motivasi mereka mencipta malah untuk penegasan jatidiri ke-manusia-an manusia (humanisme), bukan motif religius.)</p>
<p>Kembali ke kreatifitas, lalu jadi pertanyaan saya sekarang kita berbicara tentang &#8216;kreatifitas&#8217; apa?&#8230;yang mana?&#8230;yang bagaimana ? apakah seorang Ludwig van Bethoven atau Shakespeare atau Michelangelo, Rembrandt yang memiliki pribadi2 dan karakter melankolik ( pribadi pemurung, introvert..), jauh dari kebahagiaan.., jauh dari kebebasan dengan banyak kesedihan jauh dari karakter keceriaan anak-anak&#8230;.dapat kita katakan tidak kreatif ?</p>
<p>oleh: stevie<br />
Tentang Penulis Stevie Heru P adalah alumnus desain produk industri ITS yang tinggal di Surabaya. Sekarang ia bertugs menjadi staff desainer <a href="http://www.etjoe.com/tag/design/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with design">Design</a> Center Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.etjoe.com/2009/02/21/kekanak-kanakan-dan-kreatifitas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Beriklan Melalui Internet</title>
		<link>http://www.etjoe.com/2009/02/20/beriklan-melalui-internet/</link>
		<comments>http://www.etjoe.com/2009/02/20/beriklan-melalui-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 10:42:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etjoe</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<category><![CDATA[Beriklan Melalui Internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.etjoe.com/?p=732</guid>
		<description><![CDATA[Hingga awal tahun 1990-an, para pengusaha/perusahaan hanya mengenal koran, tabloid, majalah, radio, televisi dan bioskop, selain media luar ruang sebagai sarana beriklan. Di antara media ini, televisi merupakan media terbesar yang meraup dana iklan. Namun, seiring dengan ditemukannya World Wide Web, sebuah sistem jaringan lebar (network-wide) hypermedia, peta periklanan dunia mulai berubah. Web merupakan media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hingga awal tahun 1990-an, para pengusaha/perusahaan hanya mengenal koran, tabloid, majalah, radio, televisi dan bioskop, selain media luar ruang sebagai sarana beriklan. Di antara media ini, televisi merupakan media terbesar yang meraup dana iklan. Namun, seiring dengan ditemukannya World Wide Web, sebuah sistem jaringan lebar (network-wide) hypermedia, peta periklanan dunia mulai berubah. Web merupakan media yang lebih mudah yang pernah ada bagi kepentingan bisnis untuk menyebarkan informasi dan meraih pelanggan di internet.<br />
<span id="more-732"></span><br />
Dengan membuat sebuah home page di dalam Web, perusahaan dapat mengirimkan pesan mereka ke seluruh dunia layaknya sebuah billboard raksasa di sebuah jalan tol informasi (information superhighway). Pelanggan potensial yang tertarik terhadap pesan yang ada di situs Web tertentu dapat memperoleh informasi produk atau jasa tertentu lebih jauh hanya dengan berpindah dari satu layar ke layar lain dengan mudahnya. Inilah yang disebut dengan Internet Advertising atau biasa disingkat &#8220;I-Advertising&#8221;. Secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi periklanan / beriklan di internet.</p>
<p><a href="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/02/web1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-823" title="web1" src="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/02/web1.jpg" alt="web1" width="384" height="307" /></a></p>
<p>Ada beberapa model periklanan di internet. Pertama, periklanan pasif. Disini pengiklan menempatkan informasi pemasaran dan periklanan di situs web mereka dan mengundang pelanggan potensial untuk masuk ke dalamnya dan memperoleh informasi secara cuma-cuma. Pengkomunikasian situs web dilakukan dengan cara memberikan alamat web perusahaan tersebut pada merchandising mereka.</p>
<p>Model yang kedua adalah pemasangan iklan pada situs web yang banyak dikunjungi oleh users. Seperti halnya media tradisional, pengiklan mendapatkan keuntungan dari banyaknya kunjungan ke situs web tempat pemasangan iklan. Bila pengunjung tertarik pada gambar yang ditampilkan pada banner iklan, maka diharapkan pengunjung situs tersebut akan merespon dengan mengklik banner dan surfing pada website pengiklan.</p>
<p>Jenis-Jenis Iklan di Internet:<br />
Jenis-jenis iklan di internetpun beragam, dan bahkan, sejauh bentuk yang diinginkan oleh pengiklan dapat diakomodasi secara teknis, maka iklan tersebut dapat diwujudkan. Di Kompas Cyber Media, ada beberapa jenis iklan: iklan banner, iklan layer, iklan baris. Yang terbaru adalah iklan advertorial, dimana perusahaan dapat menayangkan berita-berita mengenai perusahaannya didalam rubrik-rubrik Kompas Cyber Media yang dipilih.</p>
<p>Selain itu, perusahaan juga dapat membuka rubrik konsultasi di Kompas Cyber Media. Dengan biaya yang sangat murah, iklan dilihat oleh target audience yang berkualitas (berpendidikan tinggi, penghasilan menengah keatas) dan jangkauannya sangat luas: dalam dan luar negeri.</p>
<p>Keefektifan Iklan di Internet Secara khusus, penelitian menunjukkan bahwa web advertising lebih efektif apabila dibandingkan dengan traditional advertising pada point-point sebagai berikut:</p>
<p>1. Mencapai high quality customers: web surfer pada umumnya berasal dari high income earners, educated, technologically savvy (IAB - Internet Advertising Bureau, www.iab.net).</p>
<p>2. Konsumen yang benar-benar terfokus (targetted customers).</p>
<p>3. Dengan menempatkan iklan / promosi pada halaman internet yang spesifik, maka perusahaan anda akan mencapai konsumen secara lebih spesifik.</p>
<p>4. Dengan menempatkan iklan / promosi pada halaman internet yang spesifik, maka perusahaan anda akan mencapai konsumen secara lebih spesifik.</p>
<p>5. Iklan dapat termonitor dengan program khusus.<br />
Di Kompas Cyber Media, pengiklan dapat mengambil manfaat dari banyaknya tingkat kunjungan yang rata-rata perhari mencapai 1.5 juta. Bahkan, diwaktu peak season, tingkat kunjungan bisa mencapai 2 juta perhari! Pengunjungnya juga berkualitas (lihat statistik) dan yang paling penting, semua iklan akan mendapatkan statistik mingguan. Dengan statistik tersebut, pengiklan mendapatkan data berapa banyak iklan mereka dilihat dan diakses oelh users. Dan lebih penting lagi, data tersebut dapat menjadi bahan analisa untuk strategi periklanan dan komunikasi mereka.</p>
<p>Seperti yang dikemukakan oleh beberapa kalangan diluar negeri, iklan di internet memang lebih efektif bila dibandingkan dengan media tradisional. Hanya saja, di Indonesia pengertian ini memang harus lebih dikomunikasikan, karena masih banyak perusahaan yang belum memahami pentingnya internet sebagai sarana promosi dan komunikasi perusahaan mereka. Meskipun demikian, kita tetap optimis…</p>
<p>…Web ad banners build brand awareness and may be better at generating awareness than television or print advertising … (Internet Advertising Bureau - www.iab.com )<br />
…generally web advertising is more effective than traditional advertising … (builder.cnet.com)<br />
…the Internet audience represents that hard-to-reach, well-educated, high income population most coveted by marketers. About internet users in USA: … a distinct shift in media habits with almost 37% of respondents claiming that they &#8220;use the web instead of watching TV on a daily basis …</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.etjoe.com/2009/02/20/beriklan-melalui-internet/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Digitalisasi Fotografi</title>
		<link>http://www.etjoe.com/2009/02/20/digitalisasi-fotografi/</link>
		<comments>http://www.etjoe.com/2009/02/20/digitalisasi-fotografi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 10:39:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etjoe</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<category><![CDATA[Digitalisasi fotografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.etjoe.com/?p=729</guid>
		<description><![CDATA[
Fotografi adalah bagian dari kehidupan. Bayangkan dunia tanpanya, majalah tanpa gambar, koran tanpa gambar. Kering! Bagaimana perjalanan fotografi di era digital ini?
Revolusi fotografi dimulai sejak George Eastman menciptakan dan menjual produk berupa kamera box kecil dan ringan bernama Kodak tahun 1888. Kamera tersebut dijual berikut rol film berbahan Perak Bromida yang dapat memotret hingga 100 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/02/digitalisasi11.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-815" title="digitalisasi11" src="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/02/digitalisasi11.jpg" alt="digitalisasi11" width="477" height="541" /></a></p>
<p>Fotografi adalah bagian dari kehidupan. Bayangkan dunia tanpanya, majalah tanpa gambar, koran tanpa gambar. Kering! Bagaimana perjalanan fotografi di era digital ini?</p>
<p>Revolusi fotografi dimulai sejak George Eastman menciptakan dan menjual produk berupa kamera box kecil dan ringan bernama Kodak tahun 1888. Kamera tersebut dijual berikut rol film berbahan Perak Bromida yang dapat memotret hingga 100 kali. Jika seluruh film telah digunakan, kamera berikut film dikirim ke perusahaan Eastman untuk di proses. Setelah itu, kamera dikirim kembali dengan rol film baru. Setelah itu dunia fotografi mulai marak dengan berbagai penemuan, film, kamera maupun lensa. Semuanya bertujuan demi kepraktisan memotret dengan kualitas tinggi.<br />
<span id="more-729"></span><br />
Seiring dengan kemajuan teknologi, terutama sejak revolusi digital dimulai, dengan tuntutan utama kecepatan. Dunia fotografi juga harus menerima kenyataan tersebut. Jarak tidak boleh menghambat pengiriman atau mendapatkan informasi. Dulu, jika terjadi sebuah peristiwa di luar negeri, media masa lokal baru bisa mendapatkan gambar atau foto peris-tiwa paling cepat sehari setelahnya. Misalnya saja kejuaraan dunia sepakbola, baru pada hari berikutnya gambar Pele mencetak gol menghiasai sebagian besar media masa. Sangat terlambat! Hanya karena menunggu proses cetak dan pengiriman.<br />
Sekarang, dengan teknologi digital, seorang pewarta foto dapat langsung mengirim hasil karyanya sesaat setelah peristiwa tersebut terjadi meski dia berjarak ribuan kilo dari kantornya. Kamera tersebut tinggal dihubungkan dengan laptop dan telepon genggam si pewarta foto. Klik dan seluruh dunia dapat menikmatinya. Tanpa film maupun kertas.</p>
<p>KAMERA DIGITAL<br />
Teknologi digital sudah sedemikian merasuk ke hampir seluruh sendi kehidupan manusia. Salah satunya dan mungkin tergolong fenomenal adalah bidang fotografi dengan ditemukannya kamera digital. Sejak Pixel – berasal dari kata Picture dan Element – ditemukan oleh komunitas komputer grafis , dimulai pula sebuah revolusi di bidang fotografi. Ide dasarnya ialah memotret tanpa film dan dapat dikirim dengan cepat tanpa harus mencetaknya.</p>
<p>Genderang perang mulai di tabuh menandai dimulainya perang teknologi antar produsen kamera. Masyarakat terkesiap dengan pesatnya teknologi fotografi yang dipicu oleh persaingan tersebut. Kegembiraan sekaligus kegamangan melebur men-jadi satu. “Perkembangan fotografi dengan adanya peralihan dari era analog ke digital cukup menyulitkan dan membingungkan” ungkap Darwis Triadi, seorang fotografer profesional kondang. Menurutnya, kesulitan tersebut terutama akan datang dari pengguna, dalam hal ini masyarakat fotografer profesional yang harus merubah sistem yang selama ini dipergunakan.</p>
<p>“Perubahan sebuah sistem bukanlah hal yang mudah” ujar Darwis, “dulu, kita tidak pernah mikir tentang RGB, sekarang harus berpikir ke sana, jadi berbagai hal yang dulu tidak pernah ditemui jadi ketemu”. Bagi masyarakat fotografer profesional, komersial maupun pewarta foto, <a href="http://www.etjoe.com/tag/digitalisasi-fotografi/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with Digitalisasi fotografi">digitalisasi fotografi</a> mutlak diperlukan. “Digital adalah kebutuhan bukan sekedar pilihan” tegas Darwis lebih lanjut.</p>
<p>Digital adalah Kecepatan Foto yang dihasilkan kamera digital umumnya dinyatakan dalam resolusi atau jumlah pixel yang membentuk foto tersebut. Misalnya, kamera dengan 2,3 megapixel artinya setiap foto terbentuk dari 2,3 juta unit citra yang membentuk foto tersebut. Makin sedikit angka pixel, maka foto yang dihasilkan makin kecil, begitu pula sebaliknya. Jika ingin mendapat hasil layak untuk dise-jajarkan dengan kamera 35 mm – sebutan untuk kamera film yang umum digunakan – maka paling tidak kamera digital tersebut harus memiliki resolusi sebesar dua megapixel.</p>
<p>Selain permasalahan resolusi, yang mempengaruhi kualitas cetak gambar, harga serta kemudahan pengoperasian juga menjadi kendala tersendiri. “Dulu saya agak sombong. Saya betul-betul anti dengan digital. Mungkin karena basic saya otodidak alias basic jalanan maka begitu masuk ke situ langsung gelagepan, makanya untuk nutupi kekurangan itu, saya bilang kalau tidak suka” kenang Darwis sambil tertawa. Bagi fotografer profesional, kualitas adalah segalanya. Kekurangan kamera digital beberapa waktu lalu terutama berasal dari kecilnya resolusi yang dihasilkan. Dua megapixel saja tidaklah cukup bagi kalangan profesional. Kekurangan lain dari kamera digital adalah terjadinya pembesaran panjang lensa antara 1,3 hingga 1,5 kali. Misalnya, lensa sudut lebar berukuran 20 mm akan menjadi 30 mm. Hal ter-sebut jelas akan memberi sedikit kesulitan bagi fotografer landscape atau pewarta foto yang sering meng-gunakan lensa jenis ini.</p>
<p>Bukan digital jika tantangan tersebut tidak dengan segera diatasi. Baru-baru ini, produsen kamera terkemuka, Canon meluncurkan sebuah kamera digital yang mampu mengatasi kedua permasalahan utama tersebut. Kamera yang diberi seri EOS 1Ds tersebut memiliki resolusi sebesar 11 megapixel dan mampu menangkap gambar full frame sesuai dengan lensa yang digunakan tanpa terjadi pembesaran panjang lensa.<br />
Meski sebelumnya sudah ada beberapa kamera dengan resolusi empat hingga enam megapixel namun belum mampu mengatasi permasalahan lensa tersebut. bagi kalang-an fotografer komersial juga telah hadir sebelumnya kamera digital kualitas tinggi macam Phase One dan Sinar.</p>
<p><a href="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/02/digitalisasi2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-816" title="digitalisasi2" src="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/02/digitalisasi2.jpg" alt="digitalisasi2" width="480" height="510" /></a></p>
<p>Setelah permasalahan tersebut dapat diatasi dengan baik oleh penemuan teknologi kamera digital mutakhir, yang tersisa hanyalah keuntungan dahsyat darinya. Bayangkan saja, segalanya menjadi instan, cepat sesuai dengan tuntutan saat iniDalam sebuah talk show digital, Hanawi Winarko, seorang fotografer profesional menyatakan bahwa efisiensi dan kecepatan adalah alasan dasar bagi fotografer profesional untuk pindah dari kamera analog ke digital. Dalam acara sama, Rudi Gultom dari G3 Imaging menambahkan bahwa keuntungan lain dari teknologi tersebut adalah kecilnya kesalahan yang mungkin terjadi selama proses.Sejak pengambilan gambar, koreksi langsung dapat dilakukan jika terjadi kesalahan karena kamera digital memungkinkan fotografer melihat hasil seketika. Setelah itu, masuk ke proses editing dan tersimpan di CD. Ketika dibuka oleh pihak advertising, kualitas gambar tak akan berkurang. Hal itu jelas sangat menguntungkan karena dengan teknologi ‘kuno’ setiap proses yang terjadi setelah pengambilan gambar dapat mempengaruhi kualitas gambar ter-utama jika foto tersebut harus di scan.</p>
<p>Darwis Triadi mengamini pernyataan tersebut. “Karena memang lebih mudah dan lebih cepat. Begitu selesai memotret, tinggal di bawa klien dan langsung dikerjakan sehari itu, tanpa perlu proses cetak dan scan” jelasnya, “Untuk proses slide dan scan bisa memakan waktu hingga lima hari,jadi banyak waktu yang terpotong dengan adanya teknologi digital ini”. Ditambahkan pula bahwa kamera digital memang akan menjadikan fotografer menjadi makin korektif yang tentunya akan menjadikan karya mereka menjadi makin baik.</p>
<p>Digital bukan Manipulasi, sayangnya pengetahuan masyarakat akan fotografi digital masih sangat terbatas bahkan cenderung negatif. Umumnya mereka beranggapan bahwa memotret dengan kamera digital tidak perlu belajar mengenai fotografi. Tinggal jepret dan jika cahaya kurang toh bisa diperbaiki dengan komputer. “Salah” ujar Darwis dengan keras, “kamera digital hanyalah media, jadi prosesnya harus benar. Lighting harus benar edit harus benar, jangan mentang – mentang digital jadi tidak perlu belajar foto”.<br />
Komputer editing, menurut Darwis, adalah perangkat untuk menambah kekurangan yang ada dari kamera digital, seperti detil yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan tampilan gambar kurang sempurna. Fotografi berarti melukis dengan cahaya, jadi akan menjadi aneh jika seorang fotografer tidak menguasai pen-cahayaan, dan hanya menggantungkan hasil fotonya dari komputer semata.</p>
<p>Perangkat digital yang sudah di-gelutinya sejak dua tahun lalu tersebut telah memberikan hasil yang sangat memuaskan. Hampir seluruh karyanya kini merupakan hasil foto digital ter-masuk majalah keluarannya bernama Eye. Dari sana sangat terlihat bahwa the man behind the camera adalah yang paling berpengaruh, apapun perangkat yang digunakannya.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.etjoe.com/2009/02/20/digitalisasi-fotografi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Corporate Identity</title>
		<link>http://www.etjoe.com/2009/01/30/corporate-identity/</link>
		<comments>http://www.etjoe.com/2009/01/30/corporate-identity/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 14:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etjoe</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<category><![CDATA[Corporate Identity]]></category>

		<category><![CDATA[design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.etjoe.com/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[
Corporate Identity atau identitas lembaga
harus digunakan secara konsekuen dan konsisten sebagai dasar cara memperkenalkan suatu lembaga/institusi atau produk/jasa layanan kepada masyarakat luas.
Bentuk media penerapan dapat berupa:
a. Kepala dan Sampul surat
b. Map, memo, cap dan kartu nama
c. Kebutuhan internal (formulir)
d. Kebutuhan eksternal (board/sign)
e. Kebutuhan publikasi/informasi
- brosur, katalog, folder, leaflet
f. Kebutuhan promosi/publikasi
- iklan koran, majalah, televisi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/01/cor-identity.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-819" title="cor-identity" src="http://www.etjoe.com/wp-content/uploads/2009/01/cor-identity.jpg" alt="cor-identity" width="396" height="326" /></a></p>
<p><a href="http://www.etjoe.com/tag/corporate-identity/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with Corporate Identity">Corporate Identity</a> atau identitas lembaga<br />
harus digunakan secara konsekuen dan konsisten sebagai dasar cara memperkenalkan suatu lembaga/institusi atau produk/jasa layanan kepada masyarakat luas.<br />
Bentuk media penerapan dapat berupa:</p>
<p><span id="more-676"></span>a. Kepala dan Sampul surat<br />
b. Map, memo, cap dan kartu nama<br />
c. Kebutuhan internal (formulir)<br />
d. Kebutuhan eksternal (board/sign)<br />
e. Kebutuhan publikasi/informasi<br />
- brosur, katalog, folder, leaflet<br />
f. Kebutuhan promosi/publikasi<br />
- iklan koran, majalah, televisi dan ‘home page’/&#8217;website&#8217;</p>
<p>Proses dan tahap perencanaan:<br />
a. Identifikasi masalah<br />
b. Analisa dan rumusan<br />
c. Konsep umum dan desain<br />
d. Perancangan (sketsa, pra desain, desain &amp; Artwork)<br />
e. Produksi, distribusi dan pemasangan pada media</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.etjoe.com/2009/01/30/corporate-identity/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Desain Produk Industri: sudahkah memenuhi standard profesi ?</title>
		<link>http://www.etjoe.com/2009/01/25/pendidikan-desain-produk-industri-sudahkah-memenuhi-standard-profesi/</link>
		<comments>http://www.etjoe.com/2009/01/25/pendidikan-desain-produk-industri-sudahkah-memenuhi-standard-profesi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 17:10:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etjoe</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<category><![CDATA[design - pendidikan industri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.etjoe.com/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Banyak profesional yang akan menjawab dengan serentak, &#8220;TIDAK !&#8221; Meskipun selalu ada mahasiswa luarbiasa yang mampu membalik anggapan tersebut, namun secara mayoritas belumlah siap, baik secara teknik dan motivasi, untuk melakukan secara baik dalam lapangan kerja 
dimana mereka telah dipersiapkan. Mereka seringkali menemukan kesulitan atau bahkan mustahil untuk mendapatkan posisi dalam sebuah kerja profesional. Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak profesional yang akan menjawab dengan serentak, &#8220;TIDAK !&#8221; Meskipun selalu ada mahasiswa luarbiasa yang mampu membalik anggapan tersebut, namun secara mayoritas belumlah siap, baik secara teknik dan motivasi, untuk melakukan secara baik dalam lapangan kerja <span id="more-666"></span><br />
dimana mereka telah dipersiapkan. Mereka seringkali menemukan kesulitan atau bahkan mustahil untuk mendapatkan posisi dalam sebuah kerja profesional. Jika mereka bisa, mereka juga seringkali membutuhkan beberapa tahun pelatihan-kembali dan pengalaman untuk mendapatkan produktivitas minimal.</p>
<p>Hanya beberapa yang memiliki &#8220;sense&#8221; dalam dunia bisnis, apalagi kemampuan untuk mendirikan firma desain mereka sendiri. Dalam sebuah pasar dimana keahlian dalam computer aided <a href="http://www.etjoe.com/tag/design/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with design">design</a> adalah sebuah nilai yang tinggi, hanya beberapa lulusan yang bisa memanfaatkannya. Kemampuan presentasi verbal dan tulisan jarang dimiliki. Dan yang paling menyedihkan, banyak yang tidak realistis dalam harapan mereka sendiri dan lupa pada permintaan-permintaan dari atasan dan calon klien mereka.</p>
<p>Bagi siswa-siswa dan orang tuanya yang membayar lebih dari 100.000 dollar amerika untuk sebuah program yang direkomendasikan oleh profesinya dan diakreditasi oleh Asosiasi Sekolah Seni dan Desain Nasional Amerika (NASAD), dengan pemahaman dan pengharapan bahwa gelar tersebut tidak hanya untuk mengawali karir, tapi juga sesuatu yang menimbulkan prestise dan respek; lapangan kerja yang nyata yang disembunyikan,kurang lebihnya. Yang terburuk, mereka merasa dicurangi. Para praktisi lapangan merasa disakiti.</p>
<p>Dimana pendidikan adalah sesuatu yang selalu kompleks, masalah utamanya justru kelihatan jelas. Profesi desainer produk industri telah berubah secara radical lebih dari 50 tahun terakhir. Pengurangan tenaga kerja telah mengurangi posisi yang tersedia, yang kemudian meningkatkan kebutuhan untuk menjadi enterpreneur.</p>
<p>Keahlian menggambar dan membuat model secara manual telah diganti dengan teknologi komputer. Ekspresi individu harus diganti dengan kerjasama multi-multidisiplin dan pemahaman praktek bisnis. Pada akhir abad, desain bukan lagi seni, dan tidak ada lagi pelindungnya (patron), desain adalah bisnis.</p>
<p>Namun pada waktu 50 tahun yang sama, pendidikan desain produk industri tetap tidak berubah. Para pendaftar masih dipilih dengan dasar potensi keahlian &#8220;artistik&#8221; mereka, tingkah laku dan motivasi. Beberapa tahun belajar seni kadang masih dibutuhkan sebelum pendidikan desain yang &#8220;sebenarnya&#8221; dimulai. Estetis dan teori desain dinilai terlalu lebih daripada esensi teknik dan bisnis.</p>
<p>Sesuatu dalam pendidikan telah berubah, tetapi bukan untuk menjadi lebih baik. Kebijaksanaan yang dikontrol oleh materi (uang kuliah) memberikan nafas pada kuantitas daripada kualitas, dan melubernya inflasi lulusan mengakibatkan performa jelek dapat lulus dengan nilai tinggi<br />
Sistem dosen tetap (tenured faculty), dilakukan pada pendidikan tahun 60an, seringkali menanamkan kepada mahasiswa, kehendak pendidiknya sendiri dan tingkah laku anti-bisnis. Mereka itu, bukanlah praktisi, melainkan ahli teori.</p>
<p>Mengapa pendidikan desain gagal untuk menyamakan langkahnya dengan perubahan yang terjadi pada profesi ini ? Mengapa banyak lulusan yang tidak dapat menembus profesi level fresh graduate ? Jawabannya terdapat pada beberapa tempat spesifik dan tertentu yang tidak tertampung dalam sistem itu sendiri, beberapa diantaranya sulit diubah.</p>
<p>Yang pertama adalah wabah dosen tetap. Hampir semua orang non akedemis tidak dapat membayangkan kekuatan dosen tetap pada administrasi universitas. Pertahanan mereka terhadap perubahan adalah memberi penghargaan kepada para dosen tetap atas kepatuhannya, bukan kepada mereka yang mengembangkan keahlian dan ide-de baru. Pada dasarnya : pejabat/dosen tetap, bagaimanapun ketidakmampuannya, tidak bisa dipecat.</p>
<p>Banyak anggaran jurusan tercurah untuk salary dosen tetap, dengan rendahnya kapasitas pengajaran mereka. Jadi, banyak pengajar junior dibutuhkan untuk menyampaikan materi yang sebenarnya, sementara sedikit yang tersisia untuk peralatan, supply dan fasilitas. Diatas masalah ini, dosen tetap mengembangkan program S2 yang mahal, bukan karena mereka tertarik pada profesi ini, tapi karena program tersebut menghasilkan dosen junior baru, jabatan prestigius di dunia pendidikan, dan tentu saja, bekerja pada dosen tetap. Inilah mengapa biaya kuliah semakin besar, dan mengapa pengurangan staff sebagai kunci dari produktivitas tidaklah diperlukan. Dengan sistem tetap yang bertentangan dengan jaman ini, perubahan terhadap pendidikan akan susah dilakukan.</p>
<p>Kedua, tidak ada mekanisme internal untuk mengukur efektivitas performance dari para lulusan dalam profesi sebenarnya. NASAD memfokuskan pada kriteria seperti fasilitas, salary dosen, anggaran, dan jam kredir; bukan pada performa mahasiswanya. Tim evaluasi NASAD terdiri dari pendidik yang dipilih oleh pendidik. Asosiasi Desainer Produk Amerika (IDSA), yang dari tahun 1970 sampai tahun 1984 menjalankan sendiri Program Pengakuan Sekolah independen dengan evaluasi dari para praktisi sebagai bagian darinya, kini tidak lagi melakukan hal tersebut. Dengan tidak adanya kriteria atau pengukuran performa profesional, susah untuk dilakukan perubahan pada pendidikan.</p>
<p>Ketiga, tidak adanya pengaruh pasar dari luar pada program akademis, seperti pada dunia luar, yang mungkin bisa memaksa perubahan kurikulum, jurusan dan performa mahasiswa yang lebih kompetitif, atau pengurangan pengeluaran. Banyak program yang membayar komentar dari praktisi sebagai input melalui dewan penasehat, yang mereview program dan mempersiapkan rekomendasi keluaran, hanya untuk melihatnya menjadi debu tanpa terlaksana.</p>
<p>Tetapi ada beberapa harapan. Jika profesi desain produk industri dapat mendesak tekanan pasar yang sebenarnya pada sekolah, perubahan akan terjadi. Yang dibutuhkan adalah tindakan dramatis dan berani oleh para praktisi.<br />
Dan mengapa tidak ? Praktisi desain produk induktrilah, yang sebenarnya, memicu sistem pendidikan seperti sekarang, lebih dari 60 tahun yang lalu. Dua program pertama diciptakan oleh direktur desain perusahaan pertama pada Westinghouse, Donald Dohner. Pada tahun 1944, sebuah kurikulum 4 tahun yang ideal diciptakan oleh badan sebelum IDSA, Industria Designer Institute (IDI), berdasarkan pendapat umum anggotanya&#8211;semuanya praktisi. Ini kemudian menjadi model program pengajaran pasca perang.</p>
<p>Tujuan dari program pendidikan pertama ini adalah untuk mempersiapkan mahasiswa atas kebutuhan mendesain pada industri dan pegawai studio desain pasca perang, atau pada praktek independen di lapangan. Program ini memasukkna pendidikan seni dasar untuk menghasilkan konsep visual dua dan tiga dimensi yang efektif, dan pendidikan secara general, diantaranya termasuk komunikasi verbal, fisika, sejaran seni, prosedur bisnis, drafting, riset pasar, metode produksi, dan matematika.</p>
<p>Lalu, pendidik profesional mengambil alih. Pada tahun 1948, ada 22 program mengajar desain produk industri, yang bersama-sama, membentuk apa yang kemudian menjadi Asosiai Sekolah Seni dan Desain Nasional (NASAD), dan menerapkan akreditasi pada semua program seni dan desain. Hal tersebut terus dilakukan, dan sejak tahun 1984, hasilnya dipublikasikan, tetapu tidak memenuhi performa standard fresh graduate yang dikembangkan oleh IDSA.</p>
<p>Jadi, mengapa tidak IDSA, satu-satunya organisasi nasional yang mewakili profesi desain produk industri, mengambil tanggung jawab tindakan tambahan yang dibutuhkan untuk memproduksi pengaruh pasar yang sebenarnya untuk perubahan pendidikan ?</p>
<p>Jalan paling efektif untuk melakukan itu adalah melalui setifikat desainer produk yang disetujui IDSA melalui tes nasional. Tindakan semacam ini. jika dilakukan, akan mengikuti tindakan disiplin ilmu lain seperti teknik, arsitektur dan desain interior, yang sudah bertahun-tahun melakukan tes untuk standard minimum dalam lapangan kerja mereka.<br />
Sertifika IDSA bukanlah sebuah ide baru. Setalah bertahun-tahun membandingkan pilihan aturan-aturan, termasuk pendaftaran dan prijinan, IDSA menyimpulkan bahwa sertifikat tersebut adaalh cara paling ekonomis dan efektif.</p>
<p>Pada tahun 1970, IDSA mengembangkan dasar kualifikasi entry level dan masih mempublikasikannya pada direktori tahunan. Sebuah rencana kualifikasi pemeriksaan untu tes tersebut telah dipersiapkan untuk diterapkan setalah persetujuan NASAD tahun 1984, bagian dari rencana jangka panjan IDSA, tetapi tidak ada tindakan lanjutan yang dilakukan.</p>
<p>Yang terbaru, sebuah Task Force IDSA, ditunjuk untuk mereviews peran IDSA dalam pendidikan desain, direkomendasikan pada tahun 1995, &#8221; IDSA mengambil inisiatif untuk proses sertifikasi formal untuk mengenali standard minimal untuk berpraktek di lapangan kerja desain produk industri. Sertifikasi IDSA tidak akan menjadi patokan baru dan hanya akan menjadi sebuah pengakuan standard oleh IDSA&#8221; Meskipun diterima, 2 Administratif IDSA yang berkutnya tidak mengambil tindakan apapun atas rekomendasi ini, kemungkinan karena adanya kesibukan denngan program IDSA excelent award, yang sayangnya, memiliki sedikit pengaruh pada program pendidikan.</p>
<p>Sukarelawan percobaan sertifikasi IDSA dapat berhubungan langsung, atau tidak berhubungan dengan keanggotaan IDSA. Biaya administrasi dan percobaan, dilakukan dengan basis regional, yang dapat diambil dari biaya pendaftaran. Saat ini sudah tersedia jaringan nasional untuk fasilitas dan personal untuk percobaan secara mandiri, yang melakukan pelayanan yang sama untuk semua organisasi profesional. IDSA hanya butuh untuk menampilkan nama baiknya saja dan menyetujui percobaan itu, tidak melaksanakan sendiri proses percobaannya.</p>
<p>Berlawanan dengan sistem yang lama, keterlibatan negara bagian atau pemerintah tidak dibutuhkan.<br />
Apa yang dapat menjadi keuntungan dari program sertifikasi IDSA ini ?<br />
Untuk pertama kalinya, praktisi pada entry level dapat dites kemampuannya sesuai dengan standard profesinal dan menjadi &#8220;desainer produk bersrtifikasi IDSA&#8221;. Kesuksesan (atau kegagalan) mereka akan merefleksikan secara langsung sekolah mereka, yang kemudian akan menjadi catatan pengaruh pasar dari luar secara nyata, mekanisme dan biaya yang kompetitif bagi sekolah dibandingkan dengan standard profesi sebenarnya.</p>
<p>Perusahaan yang membutuhkan desainer, untuk pertama kalinya, dapat menerima bukti dari kemampuan kandidat profesionalnya. Apa gunanya yang dulu menjadi lulusan mengambang dan potfolio seadanya yang lebih sesuai untuk sekolah seni daripada dunia bisnis ? Apa gunanya dulu banyak lulusan tetapi banyak yang tidak kompeten secara profesional ? Proses penyaringan yang dilakukan oleh sertifikasi IDSA akan mengurangi resiko dari menyewa dan mahalnya pelatihan kembali dari perusahaan.</p>
<p>Para praktisi desain, untuk pertama kalinya, dapat menerima kepercayaan secara profesional dari klien. Dalam sebuah jaman dimana lulusan sarjana 10 kali lebih banyak daripada 50 tahun yang lalu, dan hampir tidak berarti secara profesional, praktisi butuh lebih dari sebuah peningkatan nilai lulusan S1 untuk mendemonstrasikan qualifikasi superior mereka.</p>
<p>Mahasiswa, untuk pertama kalinya, dapat tahu secara pasti apa yang dituntut oleh dunia profeisi pada mereka. Yang lebih penting, mereka dapat tahu apakah mereka dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Sertifikasi IDSA pasti akan menjadi sebuah referensi penting, dan sebuah insentif yang kuat bagi mahasiswa untu menuntut jurusan dan staff pengajar menyiapkan mereka untuk itu.</p>
<p>Yang terbaik dari semuanya, para pendidik akan memiliki standard pasar yang sebenarnya untuk kompetensi profesional. Mereka akan memiliki insentif nyata untuk mengubah program mereka agar dapat membuat mahasiswa memenuhinya, dan agar program mereka dapat bertahan secara kompetitif. Lihatlah apa yang terjadi ketika statistik yang dipublikasikan mengidentifikasi persentase tahunan dari tiap lulusan sekolah yang memperoleh sertifikat.</p>
<p>Dengan menerapkan sertifikasi, IDSA akan mengikuti tradisi sejarahnya dan komitmennya menjadi pemimpin nasional dari profesi desain dengan tidak hanya menyeleksi standard, tetapu dengan menjamin bahwa mereka secara nyata memenuhi standard entry level praktisi. Banyak yang akan bilang, ini sudah waktunya.<br />
Jika bukan sertifikasi, lalu apa ? JIka bukan IDSA, lalu siapa ? Jika tidak sekarang, lalu kapan ?</p>
<p>oleh Carroll Gantz, FIDSA<br />
Sumber : Industrial <a href="http://www.etjoe.com/tag/design/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with design">Design</a> Education:<br />
Does it meet professional standards? by Carroll Gantz, FIDSA</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.etjoe.com/2009/01/25/pendidikan-desain-produk-industri-sudahkah-memenuhi-standard-profesi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fungsi Multimedia</title>
		<link>http://www.etjoe.com/2009/01/19/fungsi-multimedia/</link>
		<comments>http://www.etjoe.com/2009/01/19/fungsi-multimedia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 16:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etjoe</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<category><![CDATA[Art]]></category>

		<category><![CDATA[Multimedia Function]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.etjoe.com/blog/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Multimedia adalah perwujudan sekumpulan atau berbagai media
yang membawakan pesan sangat agresif dari pelontarnya untuk
disampaikan kepada khalayak sasaran.
Pemanfaatan multimedia sebagai media informasi perlu di dukung antara lain :
A. Secara internal:
1. Perusahaan atau lembaga membutuhkan media informasi
yang dapat menjangkau sasaran secara luas dan sekaligus dapat meningkatkan citra usaha secara efektif.
2. Perusahaan atau lembaga tersebut menyadari bahwa pesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Multimedia adalah perwujudan sekumpulan atau berbagai media<br />
yang membawakan pesan sangat agresif dari pelontarnya untuk<br />
disampaikan kepada khalayak sasaran.<br />
Pemanfaatan multimedia sebagai media informasi perlu di dukung antara lain :<span id="more-639"></span></div>
<p>A. Secara internal:</p>
<p>1. Perusahaan atau lembaga membutuhkan media informasi<br />
yang dapat menjangkau sasaran secara luas dan sekaligus dapat meningkatkan citra usaha secara efektif.</p>
<p>2. Perusahaan atau lembaga tersebut menyadari bahwa pesan yang akan disampaikan harus disusun secara rinci<br />
dan sistematik, sesuai dengan visi, misi, maksud dan tujuannya yaitu antara lain :<br />
a. Informasi usaha/ program, gagasan, produk, jasa atau perusahaan/ lembaga, agar masyarakat lebih merasa &#8216;dekat&#8217; dengan institusi tersebut<br />
b. Publikasi mengenai suatu pemikiran atau informasi strategis untuk disampaikan kepada masyarakat, untuk<br />
mengajak partisipasi masyarakat terhadap pemikiran tersebut<br />
c. Promosi atau kampanye dari suatu produk/ jasa/ gagasan dari perusahaan atau lembaga, agar masyarakat dapat<br />
dengan mudah mengaksesnya. (tahu, mau dan mampu mengambil keputusan positif)<br />
d. Peningkatan citra atau image dari perusahaan atau lembaga untuk menjaga kredibilitas dan bonafiditasnya.</p>
<p>3. Perusahaan atau lembaga tersebut telah mengetahui bahwa minimal ada 3 hal yang sangat menentukan ke<br />
berhasilan perancangan multimedia yaitu:</p>
<p>a. Kehandalan sistem elektronika dan informatika, sehingga keberlangsungan program multimedia dapat dijalankan<br />
secara kontinyu, apakah dalam proses pembuatannya, proses ‘up dating’, pentayangan, revisi, jaringan internal(LocalAreaNetwork) atau jaringan eksternal/ Internet (jaringan<br />
luar dengan memiliki private provider/ portal sendiri atau bergabung dengan provider lainnya.<br />
b. Kehandalan data base dari seluruh divisi sehingga di dalam pemanfaatannya secara internal, merupakan informasi untuk pengembangan diri secara sinergi dan terpadu. LAN (local area network) system dengan penampilan grafis yang menampilkan kenyamanan dan kemudahan, merupakan pemicu ketertiban (efisiensi) dan pemacu keunggulan (efektifitas) serta produktivitas kinerja seluruh staf.<br />
c. Keistimewaan dan kreativitas tampilan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan loyalitas (dedikasi) dari seluruh staf, karena mereka dengan mudah dan penuh kenyamanan mendapatkan data serta informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan tertentu.</p>
<p>Selain itu keakuratan dan keunggulan olah grafis dapat menumbuhkan percaya diri dalam mengembangkan keputusan disetiap divisi/ bagian, serta dapat<br />
berkoordinasi untuk penyelarasan pendapat. Olah elemen grafis secara optimal dapat memberikan dorongan<br />
psikologis yang sangat besar baik untuk masyarakat internal maupun eksternal.<br />
d. Adanya multimedia untuk jaringan lokal menumbuhkan efisiensi dan efektifitas usaha, karena kecepatan akses untuk mendapatkan data akan semakin mudah dan tanpa birokrasi yang berlebihan.</p>
<p>B. Secara Ekstenal :<br />
1. Perusahaan atau lembaga tersebut sangat menyadari pentingnya media informasi dengan jangkauan skala nasional dan internasional, sehingga memerlukan penanganan dan dana cukup untuk hal tersebut.<br />
2. Perusahaan atau lembaga sangat menyadari dampak yang ditimbulkan dari multi media antara lain :<br />
a. Program media melalui CD-Rom<br />
b. Program media melalui jaringan internal<br />
c. program media melalui provider<br />
(websites/homepage)<br />
ketiganya memiliki dampak kepercayaan, peluang dll.<br />
3. Perusahaan menyadari bahwa saat ini kita memiliki peluang dan kesempatan yang sama dengan perusahaan asing<br />
/ domestik lainnya, karena kehandalan teknologi dalam akses langsung sasarannya.</p>
<p>Seperti diketahui, bahwa komputer dan multimedia hanyalah sebagai media saja, dan yang paling penting :</p>
<p>Bagaimana pemikiran konsep isi materi multimedia, pendekatan dan pengolahan kreatifitas tampilannya? Jaringan dan teknis dukungan soft ware dan hardware serta proses dan tata kerjanya.</p>
<p>Selamat mengikuti “Informasi Multimedia”<br />
We hope you can enjoy it.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.etjoe.com/2009/01/19/fungsi-multimedia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Why designers can’t think</title>
		<link>http://www.etjoe.com/2009/01/15/why-designers-can%e2%80%99t-think/</link>
		<comments>http://www.etjoe.com/2009/01/15/why-designers-can%e2%80%99t-think/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 05:31:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>etjoe</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Training]]></category>

		<category><![CDATA[Why Designer can't think]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.etjoe.com/blog/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Program pendidikan desain grafis di Amerika dapat di bagi kedalam dua kategori besar: process schools dan portfolio schools. Sekolah proses menekankan pada bentuk, artinya pemecahan masalah visual yang disetir oleh bentuk.

Latihan-latihan awalnya sederhana: menggambar huruf, menerjemahkan bentuk-bentuk tiga dimensi ke citra dua dimensi yang berkualitas kontras ideal, dan dasar fotografi still-life.
Pada tingkat pertengahan, latihan-latihan formal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Program pendidikan desain grafis di Amerika dapat di bagi kedalam dua kategori besar: process schools dan portfolio schools. Sekolah proses menekankan pada bentuk, artinya pemecahan masalah visual yang disetir oleh bentuk.<br />
<span id="more-561"></span><br />
Latihan-latihan awalnya sederhana: menggambar huruf, menerjemahkan bentuk-bentuk tiga dimensi ke citra dua dimensi yang berkualitas kontras ideal, dan dasar fotografi still-life.</p>
<p>Pada tingkat pertengahan, latihan-latihan formal tersebut dikombinasikan dengan berbagai cara: padukan gambar flute dengan gambar huruf N, padukan huruf N dengan foto sepatu ballet.</p>
<p>Pada tahap akhir kombinasi-kombinasi di atas dijelmakan jadi “sebuah karya” desain grafis: Huruf N ditambah gambar flute ditambah foto sepatu ballet ditambah huruf judul Univers 42pt, maka sim salabim, jadilah sebuah poster untuk Rudolf Nureyev. Maka ketika desainer alumni dari situ dapat proyek mendesain, misalnya poster pameran karya Thomas Edison, maka dia akan cenderung untuk berbalik ke cara: padukan huruf E, dengan gambar camera, foto bohlam, dll, dicampur jadi satu. Begitulah urat pikir sekolah proses, yang akarnya menancap di Kunstgewerbeshule di Basel Swiss.</p>
<p>Sekolah portfolio, gaya pemecahan masalahnya ‘conceptual’, tapi bias mengarah pada penggunaan citra-citra yang cantik, mudah diingat dan memasyarakat. Sekolah portfolio menekankan pada hasil, bukan proses, bagaimana mempersenjatai siswa dengan portfolio keren sebagai karcis untuk dapat proyek atau diterima kerja.</p>
<p>Menurut para pendukung portfolio school, metode desain process school itu sok tinggi, tertutup, rahasia, dan tidak membumi. Menurut para pendukung process school, metode portfolio school berselera rendah, murahan dan tidak asli.</p>
<p>Anehnya alumni-alumni dari kedua sistem sekolah tersebut sama lakunya. Perusahaan logo menyenangi alumni sekolah proses, buat di suruh bikin logo manual yang super tebal. Perusahaan packaging menyenangi lulusan portfolio school, buat di suruh bikin comprehensive desain yang super cantik, dan bikin ratusan alternatif desain yang stylish untuk menyenangkan client yang bingung memilih.</p>
<p>Masalahnya adalah, kedua jenis program ini sama saja: yaitu mementingkan bagaimana tampang atau penampilan desain grafis, bukan pada permaknaannya. Dalam hal permaknaan, process school membual dengan kalimat-kalimat seputar “semiotics”. Sedangkan portfolio schools membual dengan “conceptual problem solving”. Namun pada dasarnya semua kalimat tersebut melayang di awang-awang budaya.</p>
<p>Hampir pada semua program pendidikan, bisa jadi siswa belajar desain grafis tanpa sedikit pun pernah mendalami perihal seni murni, sastra dunia, sains, sejarah, politik atau disiplin-disiplin lain yang semuanya mengikat kita di dalam budaya sehari-hari.<br />
Memangnya kenapa? Apa perlunya desainer grafis berhubungan dengan semua urusan tadi? Toh perusahaan-perusahaan mencari desainer grafis terlatih, bukan perlu penulis atau pengamat budaya?</p>
<p>Pada awalnya kekurangan tersebut tidak terasa, memang para lulusan baru tidak perlu lebih tahu mengenai perekonomian ketimbang tukang servis tv, yang penting asal mereka punya skill teknis, that’s it, cukup. Namun setelah lima atau sepuluh tahun berkiprah, bagaimana bisa seorang desainer merancang annual report tanpa sedikit pengetahuan tentang ekonomi? Bagaimana dia bisa merancang buku bila tidak tertarik dengan dunia sastra? Bagaimana dia bisa merancang logo untuk sebuah perusahaan high-tech tanpa pernah mengenal dunia sains? Ternyata mereka bisa dan tetap laku.</p>
<p>Beberapa desainer mengisi ompong pendidikan itu belajar sendiri, banyaknya sih mengarang. Namun rata-rata karya desain masa kini, dibuat oleh para desainer yang tetap setia merancang dengan cara sebagaimana ajaran sekolah dulu: mendesain sebagai upacara pemujaan di atas altar visual.</p>
<p>Karya-karya perintis desain grafis dari jaman empat puluhan dan lima puluhan, masih dan akan terus mempesona. Sedangkan karya-karya di era berikutnya terlihat semakin cepat kuno dan asing. Rupanya walau tanpa melalui program pendidikan spesial, para perintis desain grafis menjadi utuh intelektualitasnya, karena itulah tuntutan jamannya. Karya-karya mereka memperoleh nyawa dari hakekat kebudayaan mereka kala itu.<br />
Di sisi lain, sistem pendidikan modern, pada hakekatnya bebas dari nilai: setiap masalah desain dapat dipecahkan dengan solusi visual yang berdiri terpisah dengan kaitan budaya mana pun.</p>
<p>Contoh kasus: dengan enak dan langsung saja (dibayar mahal lagi) desainer masa kini terima proyek untuk meng-upgrade sebuah logo classic dari suatu merek soft drink, dibikin up to date, tanpa mengindahkan makna logo tersebut dalam kaitan budaya di jamannya. Renovasi total, gak kepikir sedikit pun untuk mengatakan tidak.<br />
Para klien bukanlah desainer lain, mereka gak mengerti, namun mereka harus diberi solusi grafis komunikasi yang benar-benar memiliki gaung, bukan sekedar pengulangan. Kita mesti memberi mereka ‘bahasa’, suatu cara penyampaian, bukan sekedar gambar cantik.</p>
<p>Kini, hasrat para pendidik desain sepertinya mengarah ke teknologi, buta komputer ditakuti bakal jadi kendala bagi lulusan. Sebenarnya, masalahnya bukan di situ, ada kebutaan lain yang lebih luas. Jika para pendidik tidak menemukan cara untuk membuka wawasan siswa dalam dunia budaya penuh makna, maka para alumni akan terus bicara dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh teman sekelasnya. Dan pada akhirnya para desainer, semakin hari dan semakin hari, hanya bisa berkomunikasi dengan diri sendiri.</p>
<p>Disarikan dari: Michael Beirut, American Center for <a href="http://www.etjoe.com/tag/design/" class="st_tag internal_tag" rel="tag" title="Posts tagged with design">Design</a> Journal, vol. 3 issue 2, 1988.</p>

	<h4>Related posts</h4>
	<ul class="st-related-posts">
	<li>No related posts.</li>
	</ul>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.etjoe.com/2009/01/15/why-designers-can%e2%80%99t-think/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>


<meta name="keywords" content="design, art, graphics, best design, best blog, best website, premium design, cool design, cool website, cool blog, portfolio, motion graphics, illustration, multimedia, etjoe design, bisnis online, internet marketing, uang, internet money, formula bisnis, penghasilan, pru, prudential, asuransi, best asuransi, etjoe design, etjoe, internetshopping, shop, pesan online, belanja online, paypal ">